PERSIJA

PERSIJA

Kamis, 05 Februari 2015

Fathul Tak Bisa Nonton Bola Lagi

Jumat, 08/02/2008 00:07 WIB

Fathul Tak Bisa Nonton Bola Lagi

Rossi Finza Noor - detiksport
Jakarta - Kerusuhan suporter sepakbola di Indonesia sampai mengakibatkan korban jiwa. Kekerasan yang entah untuk memperebutkan apa itu telah merenggut nyawa Fathul Mulyadin.
Ketika ditemui detiksport di rumahnya, kawasan Ciganjur, Jakarta, seusai acara pemakaman, Kamis (7/2/2008), ibu Fathul, Hj. Fatmah, terlihat lelah dan matanya memerah. Namun nada bicaranya tetap tegar meskipun baru kehilangan salah seorang darah dagingnya.
Dikatakan olehnya, putranya yang berusia 27 tahun itu memang seorang penggemar sepakbola sehingga selalu menyempatkan diri untuk menonton pertandingan setelah pulang dari kantor. Tetapi kemarin Fathul memilih pulang dulu ke rumahnya untuk mengganti pakaian kantor.
"Waktu itu habis Ashar, dia pamit sama saya buat nonton bola. Biasanya dia langung nonton begitu pulang dari kantor, tapi kali ini dia pulang dulu untuk ganti pakaian," tuturnya.
"Saya tidak punya firasat apa-apa. Lagipula dia memang suka sekali sama sepakbola. Jadi buat apa saya larang-larang pergi untuk nonton pertandingan," imbuhnya.
Kepulangan anaknya itu ke rumah rupanya menjadi yang terakhir kalinya. Fathul yang bekerja di dinas walikota Jakarta Selatan itu kemudian berangkat ke Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, dan tidak pernah kembali lagi selamanya. Tidak bisa pula menonton bola lagi selamanya.
Bermaksud mendukung Persija saat menghadapi Sriwijaya FC di babak semifinal Liga Indonesia 2007, Rabu (6/2/2008) malam, lulusan S1 Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu malah dijemput maut bahkan sebelum pertandingan tersebut dimulai.
Ia dianiaya sekelompok orang yang menurut saksi mata mengenakan atribut Persipura Jayapura. Ia ditemukan tewas di depan pintu XI stadion dengan luka-luka yang cukup mengenaskan, dengan tubuh bersimbah darah.
"Saya tahu kabar dari radio, ada yang menyebutkan ciri-ciri seperti dia. Lagipula dia memang belum pulang sampai jam dua malam. Saya langsung pergi ke RSCM bersama abang-abang dan saudara-saudaranya," cerita Hj. Fatmah.
"Fathul itu orang yang baik, dia berdaya guna bagi masyarakat. Tadi saja ada sekitar 100 orang yang datang untuk menyolatinya, juga mengantar ke kuburan. Dari pagi sudah ramai yang datang, sementara saya baru datang karena sejak jam dua di rumah sakit."
Meski kehilangan, Hj.Fatmah mengaku dirinya dan keluarga ikhlas menerima kepergian Fathul. "Saya sedih tapi saya ikhlas. Semoga Allah mengampuni anak saya dan dilapangkan kuburnya. Pihak keluarga juga ikhlas. Kejadian ini memang harus diusut tapi itu terserah aparat keamanan karena itu memang sudah tugas mereka. Kami sendiri sudah ikhlas."
Dia pun mengharapkan kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali karena dia tidak mau nasib yang menimpa anaknya dialami oleh orang lain.
"Semoga tidak ada Fathul lainnya. Saya berharap yang berwenang bisa menjaga kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali," pungkasnya.

Via / Info: http://m.detik.com/.../76/fathul-tak-bisa-nonton-bola-lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar