PERSIJA

PERSIJA

Minggu, 19 Oktober 2014

Dari 6 Provinsi di Sulawesi ternyata ada tujuh Tarian daerah yang populer. Tugas ILMU BUDAYA DASAR.








Dari 6 Provinsi di Sulawesi ternyata ada tujuh Tarian daerah yang populer, apa saja tarian daerah sulwaesi tersebut silahkan disimak berikut ini ? Cekidot ->



1. Tari Pakarena
Tari Pakarena adalah tarian tradisional dari Sulawesi Selatan yang diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (gandrang) dan sepasang instrument alat semacam suling (puik-puik). Selain tari pakarena yang selama ini dimainkan oleh maestro tari pakarena Maccoppong Daeng Rannu (alm) di kabupaten Gowa, juga ada jenis tari pakarena lain yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu “Tari Pakarena Gantarang. Disebut sebagai Tari Pakarena Gantarang karena tarian ini berasal dari sebuah perkampungan yang merupakan pusat kerajaan di Pulau Selayar pada masa lalu yaitu Gantarang Lalang Bata.

Tarian yang dimainkan oleh empat orang penari perempuan ini pertama kali ditampilkan pada abad ke 17 tepatnya tahun 1903 saat Pangali Patta Raja dinobatkan sebagai Raja di Gantarang Lalang Bata. Tidak ada data yang menyebutkan sejak kapan tarian ini ada dan siapa yang menciptakan Tari Pakarena Gantarang ini namun masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan kemunculan Tumanurung.

Tumanurung merupakan bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk yang diberikan tersebut berupa symbol – simbol berupa gerakan kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang. Hal ini hampir senada dengan apa yang dituturkan oleh salah seorang pemain Tari Pakarena Makassar Munasih Nadjamuddin. Wanita yang sering disama Mama Muna ini mengatakan bahwa Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dahulu. Sebelum berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki.

Gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual ketika penduduk di bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni langit. Tak mengherankan jika gerakan dari tarian ini sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Setiap gerakan memiliki makna khusus. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar.

Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam. Tari Pakarena Gantarang diiringi alat music berupa gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan pui-pui. Sedangkan kostum dari penarinya adalah, baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tahun 2007, Tari Pakarena Gantarang mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia pada Acara Jembatan Budaya 2007 Indonesia–Malaysia di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC).

2. Tari Molulo
Tari Molulo sebenarnya adalah tari tradisional yang berasal dari daerah Tolaki Sulawesi Tenggara (Indonesia). Daerah tolaki adalah bekas Kerajaan Konawe dan Mekongga yakni Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kota Kendari, dan sebagian Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara.

Di daerah-daerah tersebut menggunakan bahasa Tolaki namun dengan dua dialek yang berbeda yakni Bahasa Tolaki Dialek Wawonii dan Bahasa Tolaki Dialek Mekongga. Walaupun Tari Molulo ini berasal dari daerah/suku tolaki, akan tetapi tarian ini diminati oleh seluruh masyarakat di Sulawesi Tenggara bahkan Sulawesi Tengah. Molulo ini hampir sama dengan modero, hanya saja kalau dalam modero lagu harus dibawakan oleh peserta modero, akan tetapi dalam molulo lagu berasal dari kaset/pita rekaman ataupun gong dan gendang.

Pada zaman dahulu, molulo selalu dilaksanakan dengan menggunakan gong. Jadi dapat dikatakan ada kelompok penari dan kelompok penabuh gendang dan pemukul gong. Namun sayangnya, di kabupaten muna, tari molulo yang diikuti dengan gendang dan gong sudah tidak ada lagi, sebab sudah berganti dengan menggunakan music dangdut yang berirama disko, remix dan irama house.

Selain menggunakan musik yang berasal dari kaset/pita rekaman, saat ini juga molulo yang paling banyak digemari adalah musik yang berasal dari grup band atau organ. Kadang-kadang kalau menggunakan kaset/pita rekaman tidak banyak yang menyukainya, akan tetapi jika menggunakan organ atau music band, banyak sekali yang menggemarinya. Ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Muna tetapi merata di Sulawesi Tenggara.

3. Tari Modero
Tarian Rakyat Suku Mori di Sulawesi Tengah: Kesenian ini diselenggarakan hampir disemua desa pada waktu musim panen sebagai tanda syukur dan pada rangkaian acara pernikahan. Modero dijadikan pula ajang pertemuan antara cewe dengan cowo, Menari bersama dalam beberapa lingkaran bersusun bisa sampai 5 atau 10 atau lebih lingkaran, ditengahnya dinyalakan api unggun, dan seorang memukul gendang yang berirama, disiapkan pula tempat minuman biasanya minuman dari arak (Saguer) dan daging dendeng bakar.

Tarian Modero dimulai dari jam 9 malam sampai pagi, sambil menari mendendangkan pantun khas daerah tersebut, bagi yang kelelahan dapat beristrahat sambil baring di tengah2 lingkaran., siapa saja dapat ikut dan bargabung dalam tarian tersebut, terkadang wisatawan manca negara pun ikut bergabung. Irama gerakan Modero mulai dari gerakan dasar (gerakan kekiri-kekanan sambil bergandengan tangan) sampai dengan gerakan irama yang tersulit/tingkat ke 9 (versi asli tarian molulo) dan semua beraturan. Kalau tidak tau gerakannya, jangan khawatir, bergabung saja diantara gadis gadis yang cantik, ia akan menggandeng tangan anda dan menuntun, tidak peduli ia mempunyai pasangan atau tidak.. Kalau Anda hanya berdiri dipinggiran lingkaran. tunggu saja tidak lama kemudian anda dijemput untuk bergabung.

4. Tari Patududu
Sulawesi Barat atau disingkat Sul-Bar termasuk provinsi yang masih tergolong baru di Pulau Sulawesi, Indonesia. Provinsi yang dibentuk pada tanggal 5 Oktober ini sebagian besar dihuni oleh suku Mandar (49,15%) dibanding dengan suku-bangsa lainnya seperti Toraja (13,95%), Bugis (10,79%), Jawa (5,38%), Makassar (1,59%) dan lainnya (19,15%). Maka tidak heran jika adat dan tradisi suku Mandar lebih berkembang di daerah ini. Salah satu tradisi orang Mandar yang sangat terkenal adalah tradisi penjemputan tamu-tamu kehormatan baik dari dalam maupun luar negeri.

Penyambutan tamu kehormatan tersebut sedikit berbeda dari daerah lainnya. Para tamu kehormatan tidak hanya disambut dengan pagar ayu atau pengalungan bunga, tetapi juga dengan Tari Patuddu. Zaman sekarang, tarian ini biasanya dimainkan oleh anak-anak Sekolah Dasar (SD) dengan menggunakan alat tombak dan perisai yang kemudian diiringi irama gendang. Oleh karena itu, Tari Patuddu yang memperagakan tombak dan perisai ini disebut juga tari perang. Disebut demikian karena sejarah tarian ini memang untuk menyambut balatentara Kerajaan Balanipa yang baru saja pulang dari berperang.

Menurut sebagian masyarakat setempat, Tari Patuddu ini lahir karena sering terjadi huru-hara dan peperangan antara balatentara Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Passokorang pada masa lalu. Setiap kali pasukan perang pulang, warga kampung melakukan penyambutan dengan tarian Patuddu. Tarian ini menyiratkan makna, “Telah datang para pejuang dan pahlawan negeri,” sehingga tari Patuddu cocok dipentaskan untuk menyambut para tamu istimewa hingga saat ini.

Namun, ada versi lain yang diceritakan dalam sebuah cerita rakyat terkait dengan asal-mula tari Patuddu. Konon, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah pegunungan di Sulawesi Selatan (kini Sulawesi Barat), hidup seorang Anak Raja bersama hambanya. Suatu waktu, Anak Raja itu ditimpa sebuah musibah. Bunga-bunga dan buah-buahan di tamannya hilang entah ke mana dan tidak tahu siapa yang mengambilnya. Ia pun berniat untuk mencari tahu siapa pencurinya. Dapatkah Anak Raja itu mengetahui dan menangkap si pencuri? Siapa sebenarnya yang telah mencuri buah dan bunga-bunganya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Asal-Mula Tari Patuddu berikut ini!

Alkisah, pada zaman dahulu, di daerah Mandar Sulawesi Barat, hiduplah seorang Anak Raja di sebuah pegunungan. Di sana ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi oleh taman bunga dan buah yang sangat indah. Di dalam taman itu terdapat sebuah kolam permandian yang bersih dan sangat jernih airnya.

Pada suatu hari, saat gerimis tampak pelangi di atas rumah Anak Raja. Kemudian tercium aroma harum semerbak. Si Anak Raja mencari-cari asal bau itu. Ia memasuki setiap ruangan di dalam rumahnya.

Namun, asal aroma harum semerbak itu tidak ditemukannya. Oleh karena penasaran dengan aroma itu, ia terus mencari asalnya sampai ke halaman rumah. Sesampai di taman, aroma yan dicari itu tak juga ia temukan. Justru, ia sangat terkejut dan kesal, karena buah dan bunga-bunganya banyak yang hilang. “Siapa pun pencurinya, aku akan menangkap dan menghukumnya!” setengah berseru Anak Raja itu berkata dengan geram. Ia kemudian berniat untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang telah berani mencuri bunga-bunga dan buahnya tersebut.

Suatu sore, si Anak Raja sengaja bersembunyi untuk mengintai pencuri bunga dan buah di tamannya. Tak lama, muncullah pelangi warna-warni yang disusul tujuh ekor merpati terbang berputar-putar dengan indahnya.

Anak Raja terus mengamati tujuh ekor merpati itu. Tanpa diduganya, tiba-tiba tujuh ekor merpati itu menjelma menjadi tujuh bidadari cantik. Rupanya mereka hendak mandi-mandi di kolam Anak Raja. Sebelum masuk ke dalam kolam, mereka bermain-main sambil memetik bunga dan buah sesuka hatinya.
Anak Raja terpesona melihat kencantikan ketujuh bidadari itu. ”Ya Tuhan! Mimpikah aku ini? Cantik sekali gadis-gadis itu,” gumam Anak Raja dengan kagum. Kemudian timbul keinginannya untuk memperistri salah seorang bidadari itu. Namun, ia masih bingung bagaimana cara mendapatkannya. ”Mmm...aku tahu caranya. Aku akan mengambil salah satu selendang mereka yang tergeletak di pinggir kolam itu,” pikir Anak Raja sambil mengangguk-angguk.

Sambil menunggu waktu yang tepat, ia terus mengamati ketujuh bidadari itu. Mereka sedang asyik bermain sambil memetik bunga dan buah sesuka hatinya. Mereka terlihat bersendau-gurau dengan riang. Saat itulah, si Anak Raja memanfaatkan kesempatan. Dengan hati-hati, ia berjalan mengendap-endap dan mengambil selendang miliki salah seorang dari ketujuh bidadari itu, lalu disembunyikannya. Setelah itu, ia kembali mengamati para bidadari yang masih mandi di kolam.
Setelah puas mandi dan bermain-main

ketujuh bidadari itu mengenakan selendangnya kembali. Mereka harus kembali ke Kahyangan sebelum pelangi menghilang. Pelangi adalah satu-satunya jalan kembali ke Kahyangan. Namun Bidadari Bungsu tidak menemukan selendangnya. Ia pun tampak kebingungan mencari selendangnya. Keenam bidadari lainnya turut membantu mencari selendang adiknya. Sayangnya, selendang itu tetap tidak ditemukan. Padahal pelangi akan segera menghilang.
Akhirnya keenam bidadari itu meninggalkan si Bungsu seorang diri.

Bidadari Bungsu pun menangis sedih. “Ya Dewa Agung, siapa pun yang menolongku, bila laki-laki akan kujadikan suamiku dan bila perempuan akan kujadikan saudara!” seru Bidadari Bungsu. Tak lama berseru demikian, terdengar suara halilintar menggelegar. Pertanda sumpah itu didengar oleh para Dewa.

Melihat Bidadari Bungsu tinggal sendirian, Anak Raja pun keluar dari persembunyiannya, lalu menghampirinya.
”Hai, gadis cantik! Kamu siapa? Mengapa kamu menangis?” tanya Anak Raja pura-pura tidak tahu.
”Aku Kencana, Tuan! Aku tidak bisa pulang ke Kahyangan, karena selendangku hilang,” jawab Bidadari Bungsu.
”Kalau begitu, tinggallah bersamaku. Aku belum berkeluarga,” kata Anak Raja seraya bertanya, ”Maukah kamu menjadi istriku?”
Sebenarnya Kencana sangat ingin kembali ke Kahyangan, namun selendangnya tidak ia temukan, dan pelangi pun telah hilang. Sesuai dengan janjinya, ia pun bersedia menikah dengan Anak Raja yang telah menolongnya itu. Akhirnya, Kencana tinggal dan hidup bahagia bersama dengan Anak Raja.

Beberapa tahun kemudian. Kencana dan Anak Raja dikaruniai seorang anak laki-laki. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan mereka. Mereka mengasuh anak itu dengan penuh perhatian dan kasih-sayang. Selain mengasuh dan mendidik anak, Kencana juga sangat rajin membersihkan rumah.

Pada suatu hari, Kencana membersihkan kamar di rumah suaminya. Tanpa sengaja ia menemukan selendang miliknya yang dulu hilang. Ia sangat terkejut, karena ia tidak pernah menduga jika yang mencuri selendangnya itu adalah suaminya sendiri. Ia merasa kecewa dengan perbuatan suaminya itu. Karena sudah menemukan selendangnya, Kencana pun berniat untuk pulang ke Kahyangan.
Saat suaminya pulang, Kencana menyerahkan anaknya dan berkata,
Suamiku, aku sudah menemukan selendangku. Aku harus kembali ke Kahyangan menemui keluargaku. Bila kalian merindukanku, pergilah melihat pelangi
Saat ada pelangi, Kencana pun terbang ke angkasa dengan mengipas-ngipaskan selendangnya menyusuri pelangi itu. Maka tinggallah Anak Raja bersama anaknya di bumi. Setiap ada pelangi muncul, mereka pun memandang pelangi itu untuk melepaskan kerinduan mereka kepada Kencana. Kemudian oleh mayarakat setempat, pendukung cerita ini, gerakan Kencana mengipas-ngipaskan selendangnya itu diabadikan ke dalam gerakan-gerakan Tari Patuddu, salah satu tarian dari daerah Mandar, Sulawesi Barat.

Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah anjuran meninggalkan sifat suka mengambil barang milik orang lain. Sifat yang tercermin pada perilaku ketujuh bidadari dan Anak Raja tersebut sebaiknya dihindari.

Ketujuh bidadari telah mengambil bunga-bunga dan buah-buahan milik si Anak Raja tanpa sepengetahuannya. Demikian pula si Anak Raja yang telah mengambil selendang salah seorang bidadari tanpa sepengetahuan mereka, sehingga salah seorang bidadari tidak bisa kembali ke Kahyangan. Sebaliknya, Anak Raja harus ditinggal pergi oleh istrinya, Bidadari Bungsu, ketika si Bungsu menemukan selendangnya yang telah dicuri oleh suaminya itu. Itulah akibat dari perbuatan yang tidak dianjurkan ini. Mengambil hak milik orang lain adalah termasuk sifat tercela.

Bahkan dalam ajaran sebuah agama disebutkan, mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara semena-mena, sama artinya dengan memakan harta yang haram. Ada banyak cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mengambil dan memakan harta orang lain secara tidak halal, di antaranya mencuri, merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli barang yang terlarang dan riba. Kecuali yang dihalalkan adalah pengambilan dan pertukaran harta dengan jalan perniagaan dan jual-beli yang dilakukan suka sama suka antara si penjual dan si pembeli, tanpa ada penipuan di dalamnya.

Setiap agama menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa menjunjung tinggi, mengakui dan melindungi hak milik orang lain, asal harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal. Oleh karena itu, hendaknya jangan memakan dan mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal.

5. Tari Saronde
Tari Saronde adalah tari pergaulan keakraban dalam acara pertunangan. Tari pergaulan keakraban dalam acara resmi pertunangan di Gorontalo. Tarian ini diangkat dari tari adat malam pertunangan pada upacara adat perkawinan daerah Gorontalo. Tarian ini dilakukan di hadapan calon mempelai wanita.

Tentu penarinya adalah calon mempelai laki-laki bersama orang tua atau walinya. Ini adalah cara orang Gorontalo menjenguk atau mengintip calon pasangan hidupnya. Dalam bahasa Gorontalo, tarian ini adalah sarana molihe huali yang berarti menengok atau mengintip calon istri. Setelah melalui serangkaian prosesi adat, calon mempelai pria kemudian mulai menari Saronde bersama ayah atau wali.

Mereka menari dengan selendang. Saronde sendiri terdiri dari musik dan tari dalam bentuk penyajiannya. Musik mengiringi tarian Saronde dengan tabuhan rebana dan nyanyian vokal, diawali dengan tempo lambat yang semakin lama semakin cepat. Iringan rebana yang sederhana merupakan bentuk musik yang sangat akrab bagi masyarakat Gorontalo yang kental dengan nuansa religius. Dengan tarian ini calon mempelai pria mencuri – curi pandang untuk melihat calonnya. Tari Saronde dipengaruhi secara kuat oleh agama Islam.

Saronde dimulai dengan ditandai pemukulan rebana diiringi dengan lagu Tulunani yang disusun syair-syairnya dalam bahasa Arab yang juga merupakan lantunan doa – doa untuk keselamatan. Sementara calon mempelai wanita berada di dalam kamar dan memperhatikan pujaan hatinya dari kejauhan atau dari kamar.

Menampakkan sedikit dirinya agar calon mempelai pria tahu bahwa ia mendapat perhatian. Sesekali dalam tariannya ia berusaha mencuri pandang ke arah calon mempelai wanita. Dalam penyajiannya, pengantin diharuskan menari, demikian juga dengan orang yang diminta untuk menari ketika dikalungkan selendang oleh pengantin dan para penari.

Seiring berjalannya waktu kini muncul tarian modern baru yang di sebut DANCA. Tarian modern Danca ( Dana - dana cha cha) adalah kolaborasi tarian tradisional dengan tarian modern. Sebab tarian Dana-dana Cacha hanyalah hasil kreatifitas masyarakat modern Gorontalo yang menggabungkan Tarian Dana-dana dengan Gerak dan Lagu yang bergenre Cha-cha.

6. Tari Pato-pato
Pato - pato adalah sebuah kesenian tradisional asli bumi Sulawesi Utara. Pato-Pato atau yang juga dikenal dengan istilah Masamper adalah sebuah seni menyanyi dan menari khas masyarakat suku Sanger, Sulawesi Utara. Lagu yang dibawakan tidak hanya melulu bercerita tentang hubungan manusia dengan manusia tapi juga bercerita tentang hubungan manusia dengan Tuhannya bahkan hubungan manusia dengan alam sekitar.

Kesenian Pato-Pato umumnya dibawakan dalam acara seperti upacara adat, perayaan hari raya keagamaan, pesta pernikahan, dan hari ulang tahun. Untuk terlibat dalam kesenian ini, kita dituntut untuk bisa bernyanyi dan menari dengan lincah. Seperti halnya Poco-Poco, Pato-Pato juga harus dibawakan secara berkelompok.

Namun bedanya dalam setiap kelompok Pato-Pato memiliki seorang pemimpin yang dipanggil ‘Pangantaseng’, ia bertugas memberikan aba-aba kepada anggota-anggota yang lain, gerakan dan lagu apa yang akan dibawakan. Sebagai catatan, peserta kesenian ini diwajibkan menguasai banyak lagu Pato-Pato atau Masamper sekaligus karena kesenian ini dibawakan secara estafet atau nonstop.

Di Sulawesi Utara, kesenian daerah tradisional ini masih terpelihara dengan baik. Banyak event lokal yang dimeriahkan dengan atraksi menarik rentak tari dan lagu Pato-Pato, sebut saja ajang pesta rakyat yang rutin dilakukan setiap tahun dalam rangka memperingati haru ulang tahun kota.

Selain itu, pada setiap hari Natal atau Tahun Baru ada semacam tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang, yaitu berkunjung ke rumah-rumah yang dilakukan oleh kelompok kesenian Masamper. Di setiap rumah yang disinggahi, kelompok tersebut akan membawakan setidaknya lima buah lagu Pato-Pato dengan gerak tari yang juga berbeda-beda yang sering mengundang gelak tawa dari penghuni rumah dan siapa saja yang melihatnya.

7. Poco-poco
Balenggang pata pata
Ngana pe goyang pica pica
Ngana pe bodi poco-poco ......

Kalimat di atas adalah penggalan lirik sebuah lagu fenomenal berjudul Poco-Poco. Lagu ini sangat popular tidak hanya di kalangan masyarakat kawanua (istilah untuk orang-orang yang berasal dari Sulawesi Utara) tapi juga di seantero nusantara bahkan katanya gemanya telah sampai ke manca negara. Lagu ini memiliki rentak ceria dengan irama seperti cha-cha dan selalu diiringi dengan gerakan menyerupai senam seperti line dance yang umum dibawakan oleh para cowboy dan cowgirl dari negeri Paman Sam. Kini gerakan senam yang selalu dibawakan secara berkelompok ini lebih dikenal dengan nama dansa Poco-Poco.

Banyak orang bertanya dari mana asal Poco-Poco dan jika mendengar dari lagunya saja, pasti mereka akan berpikir bahwa Poco-Poco berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Kalau dilihat dari bahasa yang dipakai pada lirik lagunya memang menggunakan Bahasa Manado sehingga pasti orang akan berpikir bahwa Poco-Poco asalnya dari sana.

Bahkan sebagian orang kawanua pun mengklaim bahwa Poco-Poco memang berasal dari tanah kelahiran mereka. Namun sepertinya tidak banyak yang menyadari bahwa lagu ini bukan diciptakan oleh seorang Manado. Lagu ini diciptakan oleh seorang Ambon bernama Arie Sapulette dan juga dinyanyikan/dipopulerkan oleh penyanyi Ambon bernama Yoppy Latul. Sedangkan dansa Poco-Poco sendiri, gerakan dasarnya diambil dari tarian tradisional Maluku bernama Wayase atau Maku-Maku.

Sumber Dari :  http://blogerbugis.blogspot.com/2013/08/jenis-jenis-tarian-daerah-yang-populer.html

Semoga bermanfaat untuk pembaca khususnya untuk diri saya pribadi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar